Tampilkan postingan dengan label ITB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ITB. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Mei 2014

menulis itu gampang (Self reminder)

Tercatat terakhir kali saya menulis dengan serius pada tahun 2012. Merampungkan dua fiksi panjang namun secara keseluruhan tidak bisa dikatakan rampung. Seluruh ide utama sudah tertuang, tetapi blokade itu seakan hadir tepat ketika saya ingin mengirim ke beberapa penerbit yang sudah saya list sejak lama. Satu berhasil meluncur dua kali, sementara naskah panjang lainnya masih belum berhasil menembus blokade bernama diattach file-kan ke email.
Menulis itu gampang-gampang susah. Gampangnya kalau kita bisa memposisikan diri sebagai penulis tanpa beban. Melepaskan ide yang menggantung di kepala, tanpa peduli apakah nantinya ide yang kita tuliskan akan layak dibaca, menarik dan bahkan dalam skala lebih jauh: layak diterbitkan oleh penerbit mayor. 

Selasa, 18 Maret 2014

Parade langit Jatinangor

asrama ITB Jatinangor


Sudah setengah tahun saya berada di jatinangor, tinggal di asrama ITB yang menurut saya sangat nyaman ditempati. Perihal bagaimana saya bisa terdampar di sini  dan bisa menikmati sekolah gratis dari beasiswa saintek dikti, akan saya ceritakan di tulisan lainnya (kalau tidak malas). Enam bulan Melewati fluktuasi cuaca dan udara yang sungguh ajaib. Di sini, setiap orang akan merasakan harap-harap cemas di musim hujan seperti sekarang ini. menjaga jantung agar tidak berdegup terlalu cepat, berkali-kali melihat langit saat hendak bertolak kemana saja.

Selasa, 04 Februari 2014

Road from ITB ( Ekstraksi Artikel Ilmiah)




Baiklah, mari kita berbincang lagi sejenak. ya, kita berdua saja, kau dan aku. Aku sungguh tak ingin kusut kepalamu semakin menggulung keinginan berbeda yang kau gotong kemari sejak awal, maka kali ini aku kembali mengajakmu bicara dalam riuh yang padam. Aku ingin kau meresapi kembali tujuan keberangkatanmu kembali. Yang sama sekali tidak mengekori teman-teman baikmu di sini.

kau masih ingat bukan, perkara apa yang menyebabkan keinginan s2mu, yang sudah kau delete dari peta hidup, tiba-tiba dengan segunung keyakinan membuatmu berjalan tegak, mengatakan dengan lantang bahwa kau akan menerima tantangan ini. Pindah jalur, meski setelah memasuki masa 1 semester ini, kau justru nyaris meledak. Menemukan mimpi-mimpi masa lalumu ternyata dijawab pelan-pelan di sini. dan bahkan, aku tahu ini dengan pasti, ketika kau semakin menyadari bahwa segala yang sekarang kau genggam murni hanya titipan semata yang kelak ketika kafan benar-benar terbeli harus kau pertanggungjawabkan tanpa sedikitpun bisa mengelak. Ah, kalau aku mengingat hari-hari pertama di sini yang membuat hatimu kembang, aku tahu bahwa sebenarnya kau sama sekali tidak takut, bahwa kau sudah siap dengan segala konsekuensi. Menang atau kalah, namun tidak dengan memilih mundur di tengah jalan. (kutegaskan ini di sini, agar kelak ketika semangatmu padam tiba-tiba, kau bisa menemukan jejak keinginanmu di tulisan ini, agar kau tak perlu meraung-raung menemukan diri yang tak lagi berbentuk semangatnya)

Selasa, 21 Januari 2014

Road From ITB (Ayat pertama)

foto diambil dari http://bundafe.blogspot.com/2011/04/belajar-dari-pohon.html

Hari ini aku mendapatimu terdiam di sudut jendela. menetap lepas rimbun canopy mahoni yang berbaris rapi di sekeliling tempat tinggalmu. Aku tahu, hatimu kembali lebam menemukan satu dua perkara bereceran tak rapi, meski susah payah kau setrika. Kau, meminjam sedikit panas surya bukan untuk memanggang pengalamanmu sampai hangus, namun agar beku yang tak kunjung leleh itu segera cair. Aku tahu ada bagian perasaanmu yang diam-diam tergores karena terlampau beku. Apa mungkin karena akhir-akhir ini temperatur lingkungan tempat tinggalmu semakin gigil? atau, jangan-jangan kau sudah lupa bahwa kau sudah berjanji akan menjemput banyak pelangi kebaikan di sini? atau mungkin karena kau sudah kalah dalam perkara menebar kebaikan?

Aku ingin kau kembali mengingat ini bahwa Dia melihat dengan terang ke dalam hatimu, ke dalam niat yang kau canangkan. bukan perkara rupamu.  sekalipun yang kau dapati adalah niatmu tak terlampau baik berjalan. Tersendat di satu dua tikungan, tapi bukankah segala proses ini telah pelan-pelan membentukmu menjadi pribadi yang lebih kokoh. Karena bagaimana pun pahitnya pengalaman, jalan hidup yang berbatu-batu, jika kau mau sabar saja sedikit, makna kebaikan itu akan kau baca dengan sendirinya. Kebaikan yang selalu saja ada di balik setiap cobaan yang diberi. Bukan tidak mungkin, Allah mengajarimu agar lebih bijaksana dalam melewati sisa detak yang masih dititipi dengan cara seperti ini. dengan alur yang membuatmu lebih dekat sejengkal demi sejengkal. lebih sabar segaris demi segaris.

Senin, 13 Januari 2014

Pra-s2 biologi , sebuah jawaban kecil



kadangkala kita terlalu terburu-buru menafsirkan alamat takdir yang kita jalani. Bisa saja dalam setiap jejak yang tak menyenangkan dalam pandangan mata batin kita yang miskin ini, sebenarnya Allah selipkan jawaban-jawaban dari do’a-do’a selama ini.


pemandangan dari lantai 4 asrama ITB jatinangor, salah satu sudut yang mengarah ke hutan dan lapangan golf


Siapa yang menyangka bahwa keinginan sederhana itu, bertahun-tahun yang entah berapa bilangan, ternyata menampakkan dirinya di sini. Semenjak saya terdampar di jurusan yang bertolak belakang 100 persen dari background pendidikan s1 saya, saya sudah mencoba menerima, berdamai. Memasang di kepala saya anggapan ringan agar kaki saya tidak goyah begitu saja menerima kenyataan seperti ini. Memasang anggap bahwa takdir Allah tidak akan tertukar, termasuk juga perihal kelulusan saya di program beasiswa saintek tahun 2013 lalu.

Sejak lama saya ingin menjelajah, mendaki gunung, menerobos hutan, dan ya, intinya menyegarkan mata dan fikrian dengan menelusuri alam raya ini. Saya di sini ditugaskan belajar di bidang baru, meninggalkan dunia teknik kimia, mengobrak-abrik setiap sekat di dunia biologi . Tak masalah sebenarnya ,menemukan hal-hal baru memang selalu menyenangkan bagi saya. Terlebih lagi, dulu sebelum menyelesaikan jenjang s1, saya pernah berujar bahwa saya ingin s2 dibidang yang berbeda, dan jika memang sanggup sampai ke jenjang s3, juga ingin mengambil bidang lain lagi.