Tampilkan postingan dengan label memori. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label memori. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Maret 2014

Parade langit Jatinangor

asrama ITB Jatinangor


Sudah setengah tahun saya berada di jatinangor, tinggal di asrama ITB yang menurut saya sangat nyaman ditempati. Perihal bagaimana saya bisa terdampar di sini  dan bisa menikmati sekolah gratis dari beasiswa saintek dikti, akan saya ceritakan di tulisan lainnya (kalau tidak malas). Enam bulan Melewati fluktuasi cuaca dan udara yang sungguh ajaib. Di sini, setiap orang akan merasakan harap-harap cemas di musim hujan seperti sekarang ini. menjaga jantung agar tidak berdegup terlalu cepat, berkali-kali melihat langit saat hendak bertolak kemana saja.

Selasa, 04 Februari 2014

Road from ITB ( Ekstraksi Artikel Ilmiah)




Baiklah, mari kita berbincang lagi sejenak. ya, kita berdua saja, kau dan aku. Aku sungguh tak ingin kusut kepalamu semakin menggulung keinginan berbeda yang kau gotong kemari sejak awal, maka kali ini aku kembali mengajakmu bicara dalam riuh yang padam. Aku ingin kau meresapi kembali tujuan keberangkatanmu kembali. Yang sama sekali tidak mengekori teman-teman baikmu di sini.

kau masih ingat bukan, perkara apa yang menyebabkan keinginan s2mu, yang sudah kau delete dari peta hidup, tiba-tiba dengan segunung keyakinan membuatmu berjalan tegak, mengatakan dengan lantang bahwa kau akan menerima tantangan ini. Pindah jalur, meski setelah memasuki masa 1 semester ini, kau justru nyaris meledak. Menemukan mimpi-mimpi masa lalumu ternyata dijawab pelan-pelan di sini. dan bahkan, aku tahu ini dengan pasti, ketika kau semakin menyadari bahwa segala yang sekarang kau genggam murni hanya titipan semata yang kelak ketika kafan benar-benar terbeli harus kau pertanggungjawabkan tanpa sedikitpun bisa mengelak. Ah, kalau aku mengingat hari-hari pertama di sini yang membuat hatimu kembang, aku tahu bahwa sebenarnya kau sama sekali tidak takut, bahwa kau sudah siap dengan segala konsekuensi. Menang atau kalah, namun tidak dengan memilih mundur di tengah jalan. (kutegaskan ini di sini, agar kelak ketika semangatmu padam tiba-tiba, kau bisa menemukan jejak keinginanmu di tulisan ini, agar kau tak perlu meraung-raung menemukan diri yang tak lagi berbentuk semangatnya)

Selasa, 21 Januari 2014

Road From ITB (Ayat pertama)

foto diambil dari http://bundafe.blogspot.com/2011/04/belajar-dari-pohon.html

Hari ini aku mendapatimu terdiam di sudut jendela. menetap lepas rimbun canopy mahoni yang berbaris rapi di sekeliling tempat tinggalmu. Aku tahu, hatimu kembali lebam menemukan satu dua perkara bereceran tak rapi, meski susah payah kau setrika. Kau, meminjam sedikit panas surya bukan untuk memanggang pengalamanmu sampai hangus, namun agar beku yang tak kunjung leleh itu segera cair. Aku tahu ada bagian perasaanmu yang diam-diam tergores karena terlampau beku. Apa mungkin karena akhir-akhir ini temperatur lingkungan tempat tinggalmu semakin gigil? atau, jangan-jangan kau sudah lupa bahwa kau sudah berjanji akan menjemput banyak pelangi kebaikan di sini? atau mungkin karena kau sudah kalah dalam perkara menebar kebaikan?

Aku ingin kau kembali mengingat ini bahwa Dia melihat dengan terang ke dalam hatimu, ke dalam niat yang kau canangkan. bukan perkara rupamu.  sekalipun yang kau dapati adalah niatmu tak terlampau baik berjalan. Tersendat di satu dua tikungan, tapi bukankah segala proses ini telah pelan-pelan membentukmu menjadi pribadi yang lebih kokoh. Karena bagaimana pun pahitnya pengalaman, jalan hidup yang berbatu-batu, jika kau mau sabar saja sedikit, makna kebaikan itu akan kau baca dengan sendirinya. Kebaikan yang selalu saja ada di balik setiap cobaan yang diberi. Bukan tidak mungkin, Allah mengajarimu agar lebih bijaksana dalam melewati sisa detak yang masih dititipi dengan cara seperti ini. dengan alur yang membuatmu lebih dekat sejengkal demi sejengkal. lebih sabar segaris demi segaris.

Kamis, 16 Mei 2013

Dari Langsa, Mengumpulkan Potongan yang tertinggal di Meureubo


Segudang cerita dari meureubo kembali menyerang labirin kosong yang mulai menemukan jalan keluar, di kepala saya, yang akhir-akhir ini sering berdebam. Berdebam karena persoalan-persoalan yang melesak-lesak masuk tanpa diundang, disertai bumbu-bumbu yang rasanya sungguh menggalaukan. Dihadapkan dengan banyak pilihan dalam satu waktu sekaligus, sekilat mungkin, bahkan tak sampai sekedip mata memang bukan perkara yang menyenangkan. Tapi, setidaknya keberadaan saya kembali di sini, di meureubo harvard (julukan keren buat kos-kosan asri di kawasan sektor selatan darussalam), kembali memompa semangat menulis yang pudar begitu lama. Sampai-sampai dua novel yang saya rancang, satunya sukses ditolak dua kali, satu lagi masih tahap revisi, sampai detik ini masih belum bisa dikatakan layak diedarkan.

Berkali-kali saya mencoba memompa semangat dengan berbagai cara, senantiasa berkunjung ke perpustakaan kota di akhir pekan, khusus meminjam, melirik-lirik sejenak nama-nama penulis yang ada di rak buku, sesekali sengaja hanya mengembalikan buku saja, yang penting saya berada di antara aroma-aroma buku yang saya harapkan mampu menebas blokade yang menimpa semangat menulis saya.

Seingat saya novel pertama yang pernah saya tulis selesai saya kerjakan dalam 10 hari saja. Tanpa revisi, barulah kemudian menyicil revisi. Sepuluh hari untuk jumlah halaman 100-an bagi saya adalah prestasi tersendiri. Bayangkan saja, berapa banyak halaman yang bisa saya tulis kala itu, bahkan pernah mencapai 15 halaman dengan spasi satu setengah perharinya. Sangat jauh jika dibandingkan dengan sekarang. Satu atau dua halaman saja sehari rasanya sulit. Bukan karena kekurangan ide, tapi hilangnya konsisten, penyediaan waktu khusus untuk menulis pelan-pelan memudar seiring kehilangan teman-teman yang punya hobi serupa, dan-ya, alasan klasik- sibuk bekerja.  

Baru kali ini, ketika saya kembali ke meureubo, di tempat saya dulu pertama sekali berjuang mati-matian menulis, sendirian, sebelum menemukan komunitas bernama FLP,  semangat menulis itu seolah berhamburan masuk ke setiap pori-pori dan sendi.  meski baru tiga hari kembali kemari, tapi buku catatan yang saya beli khusus untuk menuliskan sejumlah langkah di sini, benar-benar bergerak maju. Ide-ide keluar tanpa diminta,  tangan saya sampai pegal karena harus menulis secara manual, di mana pun si ide tiba-tiba muncul. Di  teras perpustakaan induk unsyiah, ketika sedang melihat antrian masuk ke gedung AAC mengular, di mesjid baiturrahman, ketika saya menemukan sosok ajaib yang mengajarkan saya banyak hal meski sama-sama tidak sempat bertegur sapa, di meureubo, ketika banyak kejadian tak terduga sekaligus menggelikan berbaris begitu rapi. Ya, di mana saja, saya menemukan ide, maka saya akan berhenti sejenak, mencari tempat duduk, mulai menulis tanpa menggubris pandangan orang yang menganggap aneh.  Karena seprti ini yang saya lakukan dulu, ketika awal-awal saya belajar menulis secara otodidak. Ketika apa pun yang saya lihat bisa menjadi ide, yang kemudian saya simpan dalam brangkas ide di laptop saya. Ya, dengan kertas dan pena, tak mesti lari-lari menjemput laptop, sayang si ide nanti keburu lari duluan.

Barangkali tulisan ini bisa menjadi kata pengantar untuk cerita-cerita yang sedang saya kumpulkan , dalam serangkaian perjalanan kembali ke banda aceh.. mana tahu bisa jadi catatan perjalanan yang diterbitkan. SEMOGA!!!
(tiba-tiba teringat keseluruhan draft buku yang harus diselesaikan, draftnya banyak, ngerjainnya ini yang wah wah...)

Meureubo Harvard (rindu sekali menuliskan nama ini di akhir tulisan)
17 mei 2013